Mendadak muncul ide untuk membuat tulisan mengenai Cilegon dan Surabaya, tentu saja tulisan ini sebenarnya tidak akan habis dibahas dalam satu postingan saja (kasian yang baca!
). Saya menulis ini menurut opini dan pandangan saya selama tinggal di Cilegon dalam periode tahun 1995-2004 dan selama saya tinggal di Surabaya dari periode 2004-2008 ini.
Cilegon, sebuah kota yang dikenal dengan sebutan kota Baja, karena di kota inilah terletak pabrik Baja terbesar di Asia Tenggara, Krakatau Steel. Pertama kali tinggal di kota tersebut, saya mendapati kesan kumuh, panas dan berdebu. Pedagang kaki lima hampir dengan mudah ditemui di pusat kota, Trotoar-trotoar dari pagi hari sampai malam hari tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Malah dibuat sebagai tempat pedagang kaki lima Apalagi tempat yang dikatakan sebagai alun-alun malah beralih fungsi menjadi tempat nongkrong gelandangan. Saat itu Cilegon masih tergabung dalam provinsi Jawa Barat yang memiliki ibu kota Bandung.
Bahasa yang digunakan pun masih Bahasa Sunda, selama saya tinggal di sana, mayoritas teman saya adalah warga perantauan dari Sumatera dan Jawa Tengah. Hal ini mungkin disebabkan karena banyaknya pabrik yang didirikan di wilayah ini. Cilegon sendiri mulai tahun 2000 berpisah dari provinsi Jawa Barat dan masuk dalam provinsi Banten yang beribu kota di Serang. Sebenarnya ide untuk membentuk provinsi Banten sudah mencuat sejak tahun 1953, dan masyarakat Banten pun terus memperjuangkan agar wilayah Banten berpisah dari provinsi Jawa Barat.
Perjuangan semakin gencar ketika orde reformasi, dan pada tahun 2000 provinsi Banten terbentuk setelah Gus Dur sebagai presiden saat itu mengesahkan UU No. 23 tahun 2000.
Acehnya Pulau Jawa
Kentalnya sejarah Islam di Banten masih berdampak sampai sekarang. Terutama di daerah Cilegon, sampai saya terakhir tinggal di Cilegon (tahun 2004), saya hanya dapat menemukan dua tempat ibadah dari dua kepercayaan, yaitu dari Agama Budha dan Islam (kalau gak salah sich Budha, atau kong hu cu ya??). Sementara tempat ibadah kepercayaan lain ada di Serang dan Anyer, serta Merak. Tidak jelas apakah penyebab tidak adanya tempat ibadah kepercayaan lain tersebut.
Masyarakat Cilegon sangat religius sekali. Hal tersebut terbukti dengan tidak adanya satu warungpun yang buka pada waktu umat Islam menjalankan ibadah puasa. Tidak ada babi, dan hewan yang diharamkan oleh umat Islam. O iya ada cerita yang menarik pada waktu pertama kali merasakan atmosfer bulan puasa di CIlegon, kejadian ini sebenarnya menimpa ayah saya. Ketika itu beliau yang belum tahu kebiasaan di Cilegon, sedang makan roti di jalan. Tiba-tiba datang seorang pemimpin Agama dan tanpa basa basi langsung memukul jatuh roti yang sedang dipegang oleh ayah saya. Selain itu, ayah saya juga mendapatkan eguran yang keras dari orang tersebut. Sejak kejadian itu saya menyebut kota Cilegon ini sebagai Acehnya pulau Jawa.
Ganas?
Namun tak dapat dipungkiri bahwa kota yang masuk dalam kategori religius pun memiliki sejumlah penduduk yang tidak religius. Angka kejahatan di kota Cilegon terus meningkat dari tahun ke tahun (sekali lagi sampai tahun 2004). Banyak ganja yang diselundupkan dari Aceh dan Lampung, berbagai macam modus perampokan pun diperagakan dengan baik oleh sang penjahat (halah). Terbukti salah seorang teman dari orang tua saya menjadi korban dari keganasan perampok, yang pada akhirnya diketahui bahwa pelakunya merampok untuk membiayai sejumlah peledakan di Bali. Oh ya, Bapak Imam Samudra berasal dari Serang lho, sebelum beliau tertangkap beliau sempat dipergoki jalan-jalan di kota Cilegon dan memesan tiket bus di salah satu agen bus. Pada waktu peristiwa penangkapan tersebut, memang atmosfer kota Cilegon itu berbeda karena banyak helikopter yang melintas di udara, dan satu lagi banyak bule berkulit putih yang berkeliaran (entah mereka itu dari mana datangnya). Lalu peristiwa penangkapan pun terjadi dan banyak mobil dari stasiun TV yang mondar mandir di Kota Cilegon.
Satu jalan
Di kota Cilegon kita juga tidak perlu khawatir tersesat, mengapa demikian? berbeda dengan Surabaya yang memiliki banyak jalan besar. Jalan besar di Cilegon hanya satu dan itu berujung pada Anyer dan Merak. Tersesat itu mungkin saja kalau kita sudah masuk ke dalam jalan-jalan kecil. Oh ya hampir lupa, jalan utama di Kota Cilegon merupakan peninggalan Belanda (jalurnya maksudnya bukan aspalnya…hihih). Ya jalan di kota Cilegon termasuk dalam Jalur sepanjang kira-kira 1000 KM yang dibangun antara Anyer-Panarukan oleh Daendels, hasil kerja rodi tuch jalan…
Sekarang?
Saya tidak mengetahui kondisi pasti kota Cilegon saat ini, tapi berikut penggalan kata teman-teman saya yang masih tinggal di sana:
“tambah rame, angkot tambah ganas…”
“panas dan berdebu..”
“Cilegon tambah parah, sekarang diberi pagar di tengah jalan..”
“Matahari di Jombang Wetan udah kosong!!”
ya tulisan ini memang gak bisa dibuat sebagai pegangan untuk keadaan Cilegon saat ini….
Nb: bukan maksud hati membandingkan kota Cilegon tapi inilah opini….